Tata Nama Senyawa Ionik dan Senyawa Molekuler (Part-1)

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang tata nama senyawa ionik dan senyawa molekuler. Adanya perkembangan IPTEK menunjang lahirnya senyawa-senyawa baru yang saat ini lebih kurang 20 juta senyawa dengan tambahan senyawa baru lebih dari 30 ribu setiap tahun. Oleh karena itu diperlukan suatu aturan tata nama yang sistematik yang berlaku secara universal sehingga setiap senyawa yang ditemukan memiliki nama sendiri yang tidak sama dengan senyawa lain.

Potasium Kloridas (Senyawa Ionik)

Sebelum aturan tatanama sistematik ditemukan sudah dikenal aturan tata nama umum yang disebut tata nama trivial. Tata nama trivial adalah tata nama senyawa yang didasarkan pada nama penemu, warna atau kegunaannya. Contohnya Na2SOyang diberi nama garam glauber karena penemunya J.R.Glauber. Tata nama ini pun semakin ditinggalkan karena senyawa-senyawa yang semakin banyak ditemukan dengan warna dan cirikhas yang hampir sama. Selanjutnya ada yang dikenal dengan tata nama tradisional. Tata nama tradisional yaitu tata nama yang menunjukkan unsur penyusunnya contohnya KI atau kalium iodidida karena tersusun oleh unsur kalium dan iodin. Namun sama halnya dengan tata nama trivial aturan tata nama ini mulai ditinggalkan semenjak adanya aturan baru dari IUPAC tentang tata nama sistematik yang berlaku universal dan sampai sekarang masih tetap digunakan. 

Berikut ini akan dipaparkan aturan tata nama senyawa anorganik baik senyawa ionik maupun senyawa molekuler...Cekidot ^_^

A. Tata Nama Senyawa Ionik

Senyawa ionik tersusun atas kation dan anion. Sebagian besar kation monoatomik merupakan kation logam kecuali H+. Kation lainnya adalah kation poliatomik contonya NH4. Anion juga ada yang poliatomik contohnya SO42-

Berikut ini nama beberapa kation

Li + = ion litium

Na+ = ion natrium

Co 2+ = Ion kobalto (Nama tradisional), Ion kobalt (II) (Nama sistematik/Stock)

Co 3+ = Ion kobalti (Nama tradisional), Ion kobalt (III) (Nama sistematik/Stock)

Catatan:

Akhiran -o digunakan untuk memberi nama ion yang memiliki muatan yang lebih rendah, sedangkan akhiran -i dugunakan untuk memberi nama ion yang memiliki muatan yang lebih tinggi.

Tata nama sistematik disebut juga sistem Stock. Angka romawi digunakan apabila unsur logam transisi memiliki lebih dari satu macam kation, contoh selain kobalt:  Mn2+, Mn4+, Fe2+, Fe3+, Hg2+, Hg22+. Unsur logam yang hanya memiliki satu kation tidak perlu menggunakan angka romawi

Berikut ini nama beberapa anion
Unsur-unsur nonlogam cenderung membentuk ion negatif atau anion. Nama anion monoatomik diberi akhiran -da. Nama tradisional dan nama sistematik anion-anion tersebut adalah sama seperti berikut ini

H- = Ion hidridia

Si4- = Ion silisida

S2- = Ion sulfida

Cl- = ion klorida
Nama dari anion okso didasarkan atas jumlah atom oksigen yang terdapat didalamnya, jumlah atom O lebih sedikit diberi akhiran -it, sedangkan jumlah atom O lebih banyak diberi akhiran -at. seperti berikut ini.

SO32- = Ion sulfit

SO42- = Ion sulfat
Atom-atom halogen dapat membentuk empat macam anion okso, jika memiliki 1 atom O diberi awalan hipo dan diakhir -it, jika memilki 2 atom O diberi akhiran -it, jika 3 atom O diberi akhiran -at, dan terakhir jika terdiri dari 4 atom O diberi awalan per dan akhiran at, seperti contoh berikut ini.

ClO- = ion hipoklorit

ClO2- = ion klorit

ClO3- = ion klorat

ClO4- = ion perklorat
Unsur nonlogam yang hanya membentuk satu anion okso diberi akhiran -at contohnya

CO32- = ion karbonat
Tata nama anion okso alternatif

Ion diikuti dengan jumlah atom oksigen + okso + nama unsur+ akhiran -at + muatan ion

contohnya

PO43- = ion tetraoksofosfat(3-)
Beberapa anion populer dalam pembelajaran kimia SMA

CN- = Ion sianida

O22- = Ion peroksida

SCN- = ion tiosianat

C2O42- = ion oksalat

HS- = ion bisulfida (ion hidrogen sulfida)

HCO3- = ion bikarbonat (ion hidrogen karbonat)

HSO4- = ion bisulfat (ion hidrogen sulfat)
Nah sebelum membahas tata nama senyawa ionik kita perlu tahu bagaima penulisan rumus senyawa ionik

Rumus senyawa ionik diberikan dengan menuliskan rumus kation ditambah angka indeks yang menyetarakan jumlah kation diikuti dengan rumus anion ditambah angka indek yang menyatakan jumlah anion. Angka indeks ini dibutuhkan agar jumlah muatan positif dan jumlah muatan negatif anion seimbang sehingga muatannya netral. Harga indeks satu tidak perlu ditulis. seperti contoh berikut ini

Na+ + Cl- = NaCl

Na+ + S2- = Na2S

Ca2++ NO3- = Ca (NO3)2

catatan :

(1) Pada rumus senyawa ionik, rumus anion ditulis setelah rumus kation.

(2) Ion poliatomik yang jumlahnya dua atau lebih ditulis dalam tanda kurung.


 ....bagaimana tata nama senyawa ionik letss cekidot 

1.. Senyawa ionik biner dengan kation dan anion sederhana jumlah anion dan kation tidak perlu disebutkan seperti contoh berikut

NaCl= Natrium klorida

Mg3N2 = Magnesium nitrida

2..Senyawa ionik biner yang memiliki lebih dari satu muatan kation maka berlaku tata sistematika stock seperti contoh berikut ini

FeO = Fero flourida atau Besi (II) flourida

Fe2O3 = Feri flourida atau Besi (III) flourida

3.. Senyawa ionik poliatomik memiliki aturan yang sama dengan senyawa ionik biner

K2SO4 = Kalium sulfat

Sampai disini dulu yaa...jangan lupa ikuti pembahasan selanjutnya tentang tata nama senyawa molekuler.. ^_^

Referensi

Chang, Raymond. 2011. General Chemistry, The Essential Concept Ed 6. Graw Hill Higher Education. USA: New York

Effendy.2007. A-level Chemistry For Senior High School Vol 2A. Bayumedia: Malang

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar. Catatan: semua komentar akan dimoderasi